Dakhlan’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Misteri Hilangnya Sebuah Dompet

“Aduh ! ini benar-benar menarik dan sekaligus rumit, benar-benar kasus yang rumit, kalau begini masalahnya, perlu waktu 2 minggu untuk memecahkannya”. Kata Guntur kepada ku dan Lusi. “Aduh jangan 2 minggu donk, tapi 2 hari aja !, kan orang tuaku akan pulang 3 hari lagi dari Singapura”. Gerutu Lusi, temanku yang rambutnya selalu diikat itu. “Tapi kan kamu yang tanggungkan, kamu kan cewek perkasa, mana sendirian deh di rumah, aku kan juga tahu kalau kamu itu jegger kelas”. Gerutu Guntur. “Tapi kan kalau begini, aku pasrah aja”. Balas Lusi. Aku yang diam ingin menyela pembicaraan mereka, tapi karena ini masalah pribadi Lusi dan kasus rumit bagi Guntur, aku pun diam saja.

Guntur dan aku adalah teman sekelas semenjak 4 SD. Aku selalu menemani dia dalam setiap masalah teka-teki yang selalu ingin dihadapinya. 4 hari yang lalu, salah satu dari teman kami, Lusi, seorang peboxer yang tangguh di sekolah kami, meminta Guntur membantu memecahkan masalahnya dimana di rumahnya, dia yang sendirian ditinggal orang tuanya ke Singapura kehilangan dompet berisi gelang-gelang emas milik orang tuanya. Aku yang juga diminta Guntur membantu, tertarik pada masalah tersebut. Jadi Guntur dan aku memutuskan menginap di rumahnya untuk menyelidiki kasus itu.

Tiba-tiba, aku yang melamun, dikagetkan oleh jeritan Guntur yan selalu begitu kepada ku. “Jojoo, kamu itu ngelamun aja dari tadi”. Teriaknya padaku. “Kamu itu, orang lain pada stress-stress, kamu malah ngelamun”.

“Sorry deh, aku kan juga sedang mikirin kasusu ini”.

“Terus apa yang kamu saranin”. Tukas Lusi.

“Gimana ya ? oh, begini saja, kita telaah dulu buku catatan analisamu di rumah ini”. Saran ku pada Guntur. Lelaki bermata sipit itu pun segera mengambil buku itu dari sakunya dan membukanya. Aku pun yang ada di hadapannya segera melihat buku itu.

“Kan begini, telah terjadi pencurian dirumah ini terhadap dompet orang tua Lusi dan dia tak tahu apa-apa tentang dompet itu. Sebelum terjadi pencurian, dompet itu disimpan di almari di kamar orang tuanya. Almari tempat dimana dompet itu disimpan terdiri atas 3 rak pakaian. Kebetulan dompet itu disimpan di rak kedua dimana diselipkan di antara pakaian-pakaian orang tuanya. Itu kata Lusi. Kemudian, setelah terjadi pencurian, tumpukan pakaian dikedua rak itu berantakan, tetapi rak ketiga paling atas masih dalam keadaan rapi tumpukan pakaiannya. Terus ditemukan juga bercak-bercak darah diantara tumpukan-tumpukan itu hingga dimana bekas darah-darah itu menuju ke luar kamar, kemudian ke luar rumah, ke halaman terus menuju dinding pembatas dimana didekat dinding itu ada sungai kecil yang cukup deras.

Terus, yang lainnya juga ?”. Tanyaku padanya.

“Hmm, ditemukan juga ada banyak rambut-rambut hitam aneh dan beberapa rambut putih disekitar tumpukan-tumpukan pakaian itu”, tambahnya.

“Kok, Aku nggak tahu tuh, tentang rambut-rambut itu ?” sanggahku.

“Aku sudah buang rambut-rambut itu saat itu juga, rasanya aku ngeri lihat rambut-rambut itu ?”, tambah Guntur.

“Terus ada yang lainnya, Tuy ?”, tanyaku.

“Tidak, hanya hal-hal ini yang logisss dengan kasus ini !”, jawabnya sambil mencibir.

“Oh, tunggu dulu, dekat dinding itu aku temukan cakar-cakar didekat dindingnya ?”.

“Ohh, mungkin itu adalah jejak anjing hitam penjagaku”. Gumam Lusi. “Ooh, ada anjing yak ?”, tambahku. “Apa !??, ada anjing hitam di rumahmu ?”, tanya Guntur setelah mendengar kata-kata ku dengan kaget.

“Terus, dugaan mu, saat ini apa Tuy ?”, tanyaku keheranaan.

“Mungkin saat ini, memang ada pencuri kesini saat itu. Tapi yang aneh di almari itu, kok, rak yang teratas nggak diaprak-aprak, memang Jo, tumpukan teratas tidak ada apa-apa, tapi kan darimana sipencuri tahu kalau rak itu tidak berisi apa-apa, dan juga kan biasanya, yang diaprak itu rak teratas kan”. Gumam Guntur.

“Dan juga gini Tuy, Lusi, kan pencuri itu manjat dinding, tapi anehnya nggak ada darah di dinding itu, terus nggak ada telapak kakinya yang jeblok itu”, tambahku dengan tegas.

“Memang, ini benar-benar menarik dan sekaligus rumit, benar-benar rumit, sekaligus nyebelin, kalau begini masalahnya, aku mau pulang aja besok”. Gerutu Guntur pada Lusi. “Yah, jangan donk, orang tuaku pulang 3 hari lagi dari Singapura”, gerutu juga Lusi. “Tapi kan kamu yang tanggungkan, kamu cewek perkasa, mana sendirian deh di rumah ini, aku kan juga tahu kalau kamu itu jegger kelas”, gerutu Guntur. “Tapi kan kalau begini, aku pasrah aja”. Balas Lusi. Aku yang diam capek saling berigau-igau dengan mereka dari pukul 08.30 WIB malam itu.

Akhirnya, telah pukul 24.00 WIB. Akhirnya mereka kelelahan berdiskusi. Kami memutuskan untuk tidur menuju, masing-masing kamar. Untukku kamar di pinggir ruang tamu. Lusi di kamar depan dan Guntur dekat kamar orang tua Lusi.

“Aduh, sepertinya besok subuh saja ya kita nerusinnya !”, kataku dengan mata terkatup-katup.

“Yah, aku juga tidak tahan nih !” seru Lusi.

“Baik, kalau begitu kita teruskan besok !, sementara aku akan memecahkan kasus ini sambil tidur”. Tambah Guntur dengan kocaknya.

Keesokan harinya, saat waktu menunjukkan pukul 04.30 WIB, saat suara adzan berkumandang, Guntur, Aku, dan Lusi keluar dari kamar masing-masing. Melaksanakan shalat shubuh. Setelah shalat shubuh, tubuhku kembali segar, begitu juga Lusi. Tapi diantara kami, Guntur masih merasa mengantuk. “Aduh, maaf ya Lusi, tapi semalam aku tidak bisa tidur karena mendengar suara gemericit di atap kamar, apaan yah?”, keluh Guntur yang rambutnya semeraut itu. “Oh itu, maaf yah, itu sebenarnya tikus-tikus putih yang suka berkeliaran di atas atap kamar orang tuaku”. Jelas Lusi.

“Itu kan, salahnya kamu yang mau tidur disitu sampai kamu memohon pada Lusi”. Tuduhku pada Guntur. “Kan, agar penyelidikan optimal saya harus tidur di kamar dekat kamar orang tuanya Lusi”. Sanggahnya pada ku. Suasana menjadi hening saat itu, aku mulai mencari hal-hal lain agar tak bosan, lalu aku menggeser-geser asbak plastik yang ada di meja yang kami kelilingi, dengan jariku. Mungkin karena keasyikan, asbak yang ku geser-geser terjatuh dari meja. Guntur yang saat itu hanya melihat-lihat, kemudian terpana luar biasa. Aku melihat dia yang tadinya mengantuk, kemudian tiba-tiba menjadi segar dan wajahnya berseri-seri.

“Tuy, kamu kenapa ?”, serentak aku dan Lusi bertanya padanya.

“Jo, Lus, akhirnya teka-teki ini mungkin telah kita pecahkan”. Seru Guntur dengan nada keras. Aku dan Lusi saling pandang tanda tak mengerti.

“Begini, sebenarnya pencuri itu tidak ada”. Jawab Guntur.

“Maksudnya ?”, tanya Lusi dengan heran.

“Kalu begitu ayo ikuti aku, kedinding itu”, perintah Guntur pada kami.

Kami pun mengikutinya menuju ke dinding itu, dan tiba-tiba Guntur menyusuri sungai searah dengan arusnya sampai tiba pada sebuah pagar kawat yang menyaring sampah di sungai tersebut. Kemudian kami dan Guntur mengamati jaring kawat tersebut dan melihat benda putih, di antara pagar kawat tersebut, kemudian Guntur mengambilnya.

“Apakah ini ?”. Tanya Guntur pada kami.

“Memang benar !”, jawab aku dan Lusi dengan suara keras.

Ternyata dompet itu berwarna putih dan tersangkut di antara pagar kawat itu.

“Tapi bagaimana kau tahu Tuy ?”. Tanya Lusi padanaya.

“Begini, rambut-rambut itu yang menjadi kuncinya, dengan kata lain, itu adalah rambut hitam milik anjing Lusi dan rambut putih itu adalah rambut dari tikus putih”.

“Kalau begitu apa yang terjadi saat itu ?”. Tanya ku.

“Pada saat itu terjadi perkelahian antara anjing dengan tikus di kamar orang tua Lusi. Mungkin karena anjingmu itu Lus, berjalan-jalan didekat kamar itu, kemudian melihat tikus yang ada di almari yang terbuka pada rak yang kedua, langsung terjadi pertikaian yang menyebabkan tikus berdarah dan tumpukan pakaian kacau balau. Tentu saja tikus dan anjing itu meninggalkan rambutnya”.

“Terus, gimana kamu tahu, dompet itu ada di pojok disitu ?”. Tanya Lusi.

“Nah, itu tuh, yang jadi kunci kedua permasalahan ini, aku tadi melihat kamu Jo, menggeser-geser asbak sampai terjatuh. Dari situ muncul sebuah dugaan kuat, bahwa anjing itu menggigit tikus itu dan secara tak sengaja juga sekaligus membwa dompet itu, mungkin karena sama warnanya sampai menjatuhkannya secara sengaja atau tidak sengaja. Dan karena anjingmu itu Lus, pasti tak pernah menyentuh tanah, jadi tak ada jejak di lantai. Saya juga bisa membuktikan kasus ini, yaitu adanya darah di dompet itu”, jelas Guntur.

“Wah, kamu Tuy, memang hebat, hebat tapi telat”. Tukasku.

“Yah, kok bilang gitu, matahari kan belum terbit tahu ! jadi masih masuk pada hari sebelumnya kan ?”, sela Guntur.

“Tuy, karena kamu berhasil, nanti aku traktir kamu bakso yak ?” ajak Lusi.

“Nggak ah, aku pengennya main PS di rentalan dibayarin sama kamu”, minta Guntur.

Setelah bersenda gurau beberapa saat, kami kemudian membuka dompet itu. Dompet itu penuh Lumpur dan di dalamnya ada benda berkilaun. Dan di sisi atasnya ada titik kemerh-merahan.

SEKIAN

Februari 12, 2009 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: