Dakhlan’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

“Mp3 Bermasalah”


Di pagi yang cerah, sang raja siang baru terbit dari timur. Pancaran sinarnya menembus jendela kamarku, mengenai mataku, dan membangunkan aku dari mimpi indahku. Aku pun terperanjat bangun dan kaget ketika melihat jam. “Wah, gawat ! sudah jam setengah tujuh, aku bisa telat ke sekolah nih !”. Aku baru sadar, tadi aku ketiduran setelah shalat shubuh, karena tidak kuat menahan kantuk setelah sebelumnya menonton pertandingan Liga Champions. Aku pun langsung ke kamar mandi, karena buru-buru aku hanya mencuci muka saja dan menyikat gigi setelah itu keluar lagi. Lalu aku pun pergi ke dapur untuk sarapan. Di dapur, aku bertemu dengan ibu ku. “Bu, mengapa ibu tidak membangunkan aku tadi ?” Tanya ku, “Jadinya, aku bangun kesiangan” tambahku. “Oh maaf, ibu lupa membangunkanmu, lagian ibu kira kamu sedang libur, kamu kan biasanya kalau libur suka tidur lagi dan bangunnya nanti siang”, jawab ibuku dengan lembut sambil terus memasak nasi. Aku hanya bisa terdiam mendengarnya, aku memakluminya karena ibuku sangat sibuk di pagi hari. Kemudian aku mempersiapkan sarapan, aku cukup sarapan dengan minum segelas susu dan sepotong roti karena tak terbiasa sarapan pagi dengan nasi. Setelah itu, aku ke kamar untuk memakai pakaian seragam dan menyiapakan perlengkapan sekolah. Setelah semuanya selesai, aku pun menemui ibuku untuk berpamitan dan meminta uang saku, lalu aku pun pergi.

Waktu baru menunjukkan pukul 07.00 tepat, aku pun dengan kalem menunggu angkot datang karena jarak sekolah dengan rumahku relatif dekat. Sambil menunggu, aku pun bersenda gurau dengan sepupuku si Aril yang akan berangkat juga ke sekolah, tapi berbeda sekolah dengan ku. Si Aril sekolahnya di MAN sedangkan aku di SMA. Tak lama kemudian, datang temannya dengan sepeda motor dan mengajaknya, lalu dia pun pergi meninggalkan ku sendiri. Terlalu lama menunggu, aku pun mulai panik karena tak ada satupun angkot yang datang. Tiba-tiba datang si Uki, teman ku, dengan sepeda motornya. “Dan ayo naik !” serunya. Aku pun tak pikir panjang langsung naik ke motornya. Lalau motorpun melaju kencang secepat kilat. Akhirnya, aku sampai di sekolah tepat pada waktunya, aku pun masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran dengan baik. Beberapa jam kemudian, bel istirahat berbunyi. Tiba-tiba ada dua orang yang memanggilku dari luar, mereka adalah si Doni dan si Toni dari kelas sebelah, aku pun menghampiri mereka, kelihatannya mereka sangat serius seperti ada sesuatu hal yang penting.

“Hei ! ada apa Brow ? tumben kalian kesini” tanya ku sambil berjalan menuju mereka.

“Dan, kesini Dan” kata si Doni. Aku pun mendekati mereka.

“Wah … ada ap nih, kelihatannya serius banget !” balasku meledek.

“Dan, kamu tahu gak si Aril … yang sekolahnya di MAN, yang biasa dipanggil ‘si Bancet’, katanya dia sekampung denganmu ?” tanya si Doni kepadaku dengan berbisik.

“Oh … si Aril … yang sekolahnya di MAN, dia itu sepupuku dan rumahnya bersebelahan dengan rumahku” jawab ku tegas. “Emangnya ada apa … gitu … dengan dia ?”.

“Kamu … pernah gak, melihat dia membawa Mp3 ?” tanya lagi Si Doni.

“Mp3 … oh aku pernah lihat dia membawa sebuah Mp3 dan dia pernah meminta lagu kepada kakak ku” jawab ku.

“Kamu ingat gak cirri-cirinya ?” tanya Doni serius.

“Yang aku ingat, warnanya hitam-silver dan aku lihat ketika dibuka dikomputer ku, ada beberapa lagu dan gambar Naruto” jawabku menjelaskan.

“Wah ! itu barangnya, Ton” teriak Doni pada Toni sambil memukul punggungnya. Toni pun kaget mendengarnya yang dari tadi cuman melamun saja.

“Emangnya, Mp3 itu punya siapa ?” tanyaku penasaran.

“Gini Dan, sebenarnya Mp3 itu punya kakak ku, waktu itu aku meminjamkan Mp3 itu ke temanku di MAN si Samsu, karena dia ada ujian, dia menitipkannya ke si Aril, dan setelah ujian dia mau memintanya lagi, tapi kata si Aril itu Mp3-nya hilang … gitu Dan ceritanya”. Jelas Doni.

“Oh … gitu Brow ceritanya … eeemang si Aril itu orangnya tak bisa dipercaya, aku juga sering dibodohi olehnya” gerutu ku sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Pantesan, ketika aku menanyakan tentang Mp3 itu jawabannya meragukan” tambah ku.

“Dan, kamu bisa Bantu aku gak, mengambil kembali Mp3 itu, karena kakak ku sudah menelepon, katanya dia akan segera pulang dan apabila Mp3 itu belum ada, kakak ku akan marah dan mau menghajar aku dan si Aril” kata si Doni memohon kepada ku dengan wajah yang serius.

“Wah … kalau begitu, ini sangatlah gawat” balas ku .

“Oleh karena itu, aku mohon bantuanmu, karena ini dampaknya akan lebih besar, bisa-bisa terjadi tawuran antar kampong” ungkap Doni khawatir.

“Ok … baiklah, akan aku usahakan … tenanglah … nanti aku coba bicara dengan si Aril, walaupun aku jarang bergaul lagi dengannya” kataku menenangkan.

“Kalau begitu, aku masuk kelas dulu, ada PR yang belum ku kerjakan” kata ku sambil berjalan menuju kelas. Setelah pembicaraan itu selesai, aku pun kembali masuk kelas karena waktu istirahat hampir habis, sementara si Doni dan si Toni juga kembali kekelasnya.

Setelah pulang sekolah aku pun mencoba menemui si Aril, kebetulan di jalan dekat rumah aku bertemu dengannya, langsung saja aku menanyakan tentang Mp3 itu, tapi dia menjawab bahwa benda yang dimaksud itu bukan Mp3 tapi Mp4 dan malahan katanya benda itu bukan miliknya tapi milik pamannya. Mendengar semua itu, aku tidak langsung percaya begitu saja karena aku tahu perbedaan antara Mp3 dan Mp4.Selain itu juga, aku tahu karakter si Aril itu bagaimana, namun aku mencoba bersabar dulu, setelah itu aku pun pulang ke rumah. Keesokan harinya di sekolah, si Doni kembali datang ke kelasku menanyakan kembali tentang Mp3 itu, setelah dia mendengar penjelasanku, dia pun merasa kesal pada si Aril. Lalu dia mengajakku untuk pergi ke MAN menemui si Aril setelah pulang sekolah.

Bel pulang pun berbunyi, si Doni telah menungguku di luar, kemudian kami berdua pun pergi ke MAN. Aku melarang si Doni untuk membawa teman-temannya supaya tida terlalu mencurigakan dan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, jadi hanya aku dan dia yang pergi kesana. Akhirnya kami pun tiba, kami menunggu di sebuah gang dekat sekolah MAN. Tak berapa lama kemudian siswa-siswi MAN keluar. Dari kejauhan ada seseorang dengan switer abu-abu dan bertopi hitam melambaikan tangannya, “Heeei … Brow !” teriak dia sambil berjalan menuju kami. “Hei … Brow ! disini” balas Doni. Orang itu adalah si Reza temannya si Doni dari MAN. Dia pun menghampiri kami.

“Za, bagaimana perkembangannya ?” tanya Doni padanya.

“Sialan si Aril itu, dia bilang Mp3 itu adalah Mp4, dia juga berani sumpah pocong segala, dan katanya dia gak kenal dengan si Dan” jawab Reza menjelaskan.

Aku pun hanya tersenyum mendengarnya dan berkata “Ah … udah kalian jangan percaya omongannya, dia itu pembohong sejati”.

“Aku kan tahu perbedaan antara Mp3 dan Mp4” tambahku dengan rasa kesal.

Ketika kami bertiga sedang berdebat, tiba-tiba ada sebuah motor lewat.

“Tuh, si Aril” tukas Reza.

“Riiil … Ariil … Aril !” aku coba memanggilnya

Namun si Aril hanya menoleh kehadapan kami, sementara motor yang dibawa oleh temannya terus melaju kencang dan hilang.

“Jadi, itu si Aril” celetuk si Doni.

“Ah … payah kamu, jadi kamu belum tahu orangnya” gerutu aku.

“Sekarang gimana ?” tanya Reza kebingungan. Kami pun terdiam sejenak.

“Karena orang yang dicarinya telah pergi, aku pulang dulu, nanti aku coba ke rumah si Aril” kataku. “Baiklah, kalau begitu aku mohon bantuanmu, Dan” balas Doni.

“Tenanglah, do’a kan aku mudah-mudahan, berhasil” kataku menenangkan.

Kemudian si Doni memanggil tukang ojek, dan menyuruhku untuk naik ojek tersebut, sementara ongkosnya ditanggung olehnya. Aku pun dengan senang hati menerima tawarannya. Lalu aku menaiki ojek tersebut dan motorpun melaju kencang.

Setelah sampai di rumah, aku langsung ke rumah si Aril tapi kata ibunya si Aril belum pulang. Aku pun pulang ke rumah ku dulu. Sore harinya, aku kembali kerumah si Aril tapi dia masih belum pulang juga. Keesokan harinya di sekolah, si Doni datang lagi ke kelasku, lalu aku mengatakan bahwa si Aril kemarin tidak pulang ke rumahnya. Setelah mendengarnya, si Doni pun bermaksud mengajak aku lagi ke MAN, tapi aku menolaknya karena pulang sekolah nanti ada pelajaran tambahan dan aku pun mengatakan bahwa aku tidak bisa membantunya lagi. Si Doni pun dapat menerimanya. Aku pun menyarankan supaya permasalahan ini diselesaikan dengan cara baik-baik tapi kalu tidak bisa jangan bawa-bawa nama ku. Kemudian si Doni pergi dari kelas ku.

Setelah beberapa hari aku tidak tahu kelanjutan permasalahannya. Pada suatu hari, ketika aku pulang sekolah kebetulan di jalan aku bertemu dengan si Doni, aku pun menanyakan tentang masalah Mp3 itu. Lalu kata si Doni permasalahan itu telah selesai karena bantuan ibunya sehingga kakaknya tidak marah kepadnya. Aku pun bersyukur karena permasalahan itu telah selesai dengan baik. Setelah aku melewati malam-malam yang penuh kekhawatiran dan kecemasan karena memikirkan permasahan itu sehingga menganggu tidurku. Kini aku bisa tidur tenang dan bermimpi indah kembali.

SEKIAN

Februari 12, 2009 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: